
Minggu, 17 Mei 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 10 Mei 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1
Khotbah Tematis
"Hope in Uncertainty"
Minggu, 17 Mei 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1
Khotbah Tematis
"Peace Beyond Chaos"
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
KUASA, ANTARA KERAPUHAN DAN KELENTURAN
(Sebuah refleksi hari Pentakosta)
( Kisah Para Rasul 19 : 1 - 12 )
------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Kuasa sebagai sarana perubahan merupakan idealisme yang harus terus digelorakan dalam kehidupan. Kuasa sebagai sarana senantiasa bersentuhan dengan yang dikuasai sehingga relasi kekuasaan adalah relasi yang diharapkan selalu menghadirkan perbaikan. Relasi kuasa sejatinya adalah relasi yang memulihkan berdasarkan nilai kemanusian yang progresif. Dalam perspektif inilah maka kuasa senantiasa hadir dengan kemasan yang menarik karena diperlukan untuk memenuhi ambisi manusia. Dari kebutuhan sampai dengan kerakusan akan kekuasaan memang menampilkan wajah yang rupawan dan menggelorakan semangat manusia untuk terus mendekapnya rapat-rapat. Kuasa dalam pemahaman demikian adalah kuasa yang ditopang oleh pemahaman yang dangkal tentang kekuasaan itu sendiri. Kuasa dengan penampilan demikian adalah kuasa yang dipoles dengan beragam rencana jahat yang tidak segan melakukan genosida seperti yang dilakukan Hitler kepada bangsa Yahudi. Kuasa dengan pendekatan demikian tidak pernah merasa puas dengan bergelimpangannya korban tetapi setiap korban adalah keharuman sang penguasa. Apa yang dikemukakan ini adalah kuasa dengan ketumpulan naluri sehingga tidak lagi memiliki kepekaan untuk empati apalagi melayani. Kuasa dengan pendekatan seperti ini mengabaikan kerapuhan sebab makna kuasa tidaklah sejajar dengan kerapuhan. Kerapuhan adalah aib yang harus dipoles dengan berbagai cara sehingga korban akibat kuasa tidak pernah bisa dihayati.
​
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Disinilah dengan piawai Lukas menunjukkan keistimewaan kuasa yang dihadirkan oleh Roh Kudus. Kuasa-Nya bukanlah kuasa destruktif atau mematikan tetapi sebaliknya kuasa Roh Kudus adalah kuasa yang memulihkan (ayat 12), kuasa-Nya adalah kuasa yang sekaligus mengakui kerapuhan manusia. Kuasa Roh Kudus di hari Pentakosta adalah kuasa yang mengingatkan dengan jelas dan tegas bahwa bahwa dalam kerapuhan manusia Kuasa Roh Kudus tetap berkarya. Perbedaan yang demikian tegas ini menunjukkan bahwa ketika Roh Kudus hadir dalam kehidupan manusia maka kuasa yang menyertai manusia adalah kuasa yang memanusiakan. Kuasa yang tidak hadir dengan pemujaan diri yang nampak dari perjumpaan dengan sesama. Maka pelajaran yang kita dapatkan melalui perikop ini ialah:
​
1. Roh Kudus memastikan kehidupan yang mengakui-Nya bahwa hidup menjadi berarti dalam kerapuhan. (ayat 1). Baik Paulus maupun Apolos bukanlah pelayan Tuhan yang biasa sebab mereka hadir dengan reputasi yang bermutu. Namun kisah hadirnya Roh Kudus adalah kisah yang berpusat pada Roh Kudus itu sendiri dan bukan Paulus maupun Apolos. Penghayatan ini nampak dari pertanyaan Paulus kepada beberapa murid tentang Roh Kudus (ayat 2). Pertanyaan ini menegaskan bahwa kehadiran Paulus dan Apolos memang penting tetapi bukan pusat dari pelayanan. Mereka hadir dengan kuasa yang besar yang tidak berasal dari mereka sendiri tetapi dari keterbukaan menerima kuasa-Nya.
Jadi Pentakosta memberi kemampuan seseorang untuk menyadari kerapuhan dirinya dan sekaligus kelenturan karyanya. Pentakosta yang tidak dapat dibatasi oleh batasan-batasan manusia justru memberi kesadaran bagi manusia bahwa hanya dalam kuasa-Nya maka setiap orang percaya menjadi berarti. Roh Kudus dihari Pentakosta menunjukkan bahwa kuasa itu pertama-tama adalah kuasa korektif (Paulus dan Apolos dengan pengalaman mereka).
Maka seluruh karya pelayanan gereja adalah pelayanan yang digerakkan oleh Roh Kudus sebagai kekuatan yang menyadarkan diri untuk mengakui bahwa dalam kerapuhan kuasa-Nya menjadi sempurna. Manusia yang hadir dengan semangat kontemplatif adalah manusia yang bermutu karena berkaca pada diri sendiri.
​
2. Pentakosta memberi pemahaman bahwa dalam kuasa Roh Kudus maka segala keinginan diri kini mengalami perubahan (ayat 5). Dibaptis dalam Tuhan Yesus untuk menegaskan aspek istimewa dari baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Keistimewaan itu hadir bukan dari banyaknya angka-angka yang mau dibaptis (ayat 17). Namun yang diutamakan adalah kesediaan untuk menghadirkan suara kebajikan, suara yang mendeklarasikan kuasa keselamatan yang terwujud dalam Yesus Kristus. Pentakosta lalu bergerak sebagai kuasa yang menguatkan seruan nyaring karya Allah melalui manusia (band. Roma 8: 28).
Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus yang tinggal dalam diri manusia menguasai manusia dan menolong manusia untuk terus berkarya sesuai kehendak-Nya. Pentakosta memberi penjelasan bahwa semangat menunjuk kepada Yesus adalah semangat yang terus bergelora. Pentakosta sekaligus hendak menyatakan kehadiran-Nya yang selalu bersentuhan dengan manusia. Maka peristiwa Pentakosta adalah peristiwa yang menyatakan bahwa dalam kerapuhan manusia yang dikuasai-Nya manusia menjadi lentur dalam panggilan dan pengutusan sebab bukan lagi manusia tetapi Tuhanlah yang didepan.
​
Sahabat-sahabat terkasih,
Dalam pemahaman yang demikian maka kita dimungkinkan untuk terus menyuarakan berita kabar sukacita yang memanusiakan manusia. Menyuarakan kabar sukacita tentang kuasa-Nya yang terus hadir dan tidak dapat dibatasi oleh manusia. Dengan begitu maka Pentakosta bukan tentang kehebatan manusia yang terus berkarya tetapi tentang pengakuan dalam kesadaran yang tinggi bahwa dalam kerapuhan diri kuasa Allah menjadi sempurna.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia.
Amin.
​
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH




