
Jadwal Ibadah
11 Oktober 2026
Minggu XX Sesudah Pentakosta
09.00 WIB | Pdt. Francisca H.E.
Toding Datu - Manuputty
(PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih Jakarta)
17.00 WIB | Vikaris Almeidika Anindia
18 Oktober 2026
Minggu XXI Sesudah Pentakosta
~ HUT ke 16 Pelkat PKLU GPIB ~
09.00 WIB | Pdt. Risto Efraim Andaki, S.Th
(KMJ GPIB Jemaat Ekklesia Jakarta Selatan)
17.00 WIB | Pdt. Egbert Parasian Sihombing
Minggu, 18 Oktober 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 18 Oktober 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, Lt. 1​
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
KOMUNITAS KRISTEN
( Kisah Para Rasul 2 : 41-47 )
------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Sebuah persekutuan yang terbentuk dari kesadaran kolektif tentang karya Allah yang besar sebagaimana dikhotbahkan Petrus menjadi persekutuan yang lebih solid (firm). Persekutuan semacam ini dilandasi oleh pemahaman yang sangat mendasar bahwa hadirnya eksistensi mereka tidak terlepas dari kuasa yang bergerak 'dari luar' ke 'dalam' yakni kuasa Roh Kudus. Kuasa inilah yang beroperasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan ruang gerak yang luas mengekspresikan kehadiran-Nya. Inilah persekutuan yang memahami bahwa kebutuhan individu tidak menjadi penghambat untuk memasuki ruang komunitas. Maka Roh yang tadinya bergerak dari luar ke dalam kini menghantar mereka juga untuk bergerak dari dalam ke luar.
​
Gerak dari dalam ke luar inilah yang mengharumkan persekutuan ini sebab kehadirannya tidak dikemas dengan agenda tersembunyi. Gerak ini adalah gerak yang tulus dan bertumpu pada ajaran yang benar (ayat 42) dan tampil dalam tindakan yang tulus ketika berjumpa dengan sesama. Komunitas berbasis kejernihan pikiran dan ketulusan hati merupakan pintu masuk untuk berjumpa dengan dunia yang sangat kusut pikirannya karena dipenuhi dengan keculasan dan hati yang hitam pekat karena diselimuti oleh kejahatan.
​
Sahabat-sahabat yang terkasih didalam Tuhan Yesus,
​
Maka persekutuan yang hadir di awal era ke-Kristen-an menjadi persekutuan yang hadir sebagai oase di tengah keringnya komunitas waktu itu. Daya dan ruang untuk mengalami kebersamaan seolah fatamorgana dan tidak bermakna. Persekutuan inilah jawaban atas kerinduan yang selama ini terpendam jauh dalam sanubari. Maka ketika sebuah komunitas baru dengan semangat baru tampil menawarkan kesahajaan dan ketulusan, bukan saja jumlah tiga ribu orang yang memberi diri mereka, tetapi kualiats persekutuan itu semakin bertumbuh. Angka memang mencengangkan tetapi tidak boleh berhenti pada angka sebab kualitas tidak dapat diabaikan. Apa yang diperlihatkan dalam persekutuan ini adalah kualitas dari pengenalan akan Yesus dan loyalitas pada ajaran yang hasilnya sungguh dahsyat.
​​
Karena itu gereja sebagai persekutuan bukanlah koalisi yang sifatnya jangka pendek dan sarat dengan agenda tersembunyi. Persekutuan dan bukan koalisi yang harus dibatasi oleh sebuah garis tegak yang lurus untuk membedakannya. Persekutuan yang selalu hadir dalam kepeduliaan melawan koalisi yang hipokrit dan penuh dengan rencana untuk diri sendiri.
​​
Disinilah kita hadir dengan seksama untuk memeriksa diri sendiri sejauhmana persekutuan ini masih murni atau jangan-jangan sudah berubah menjadi koalisi. Kita perlu awas agar tidak terjebak dengan kegembiraan sesaat karena jumlah (uang maupun anggota) tetapi fokus kepada ajaran. Disinilah hadir 2 wilayah yang tidak boleh dipisahkan yakni bait Allah dan rumah.
​​
1. di Bait Allah (ayat 46), persekutuan itu berkumpul setiap hari menunjukkan bahwa pengajaran ini penting.
Pengajaran ini harus terus digemakan dalam persekutuan supaya tidak terjebak dengan ajaran-ajaran palsu yang mempesona sesaat tetapi mematikan secara kekal. Di bait Allah umat berkumpul mempercakapkan segala perbuatan Allah dan menghayatinya dalam diri. Bait Allah tidak lagi sebuah bangunan angker tentang kekuasaan elite agama tetapi tempat yang bersahabat untuk sebuah perbincangan dan pendalaman terhadap karya Ilahi.
​​
Sudahkah gereja menjadi ruang yang ramah untuk sebuah persekutuan sehingga yang papa sekalipun tidak merasa risih untuk hadir. Sudahkah gereja ini menjadi ruang yang luas bagi setiap warga untuk menyampaikan isi hatinya?
Inilah pertanyaan yang harus terus digumuli sebab ketika gereja tidak lagi menjadi persekutuan tetapi koalisi maka murka Tuhan akan hadir disana. Bait Allah adalah bukti yang sahih tentang hal itu. Gereja yang hadir dengan kejernihan pikiran dan hati yang bersih akan menjadi sarana yang hebat bagi pertumbuhan iman sebab banyak orang dapat melihat mujisat (ayat 43).
​​
GPIB adalah wajah persekutuan yang fokus pada ajaran sekalipun bergulat dengan tantangan. Gereja ini menjadi Rahim lahirnya anak-anak muda yang bersedia diutus kemanapun. Gereja inilah yang mengalami karya Allah secara luar biasa tetapi tidak membuatnya mengalami kegembiraan sesaat.
Kita adalah persekutuan itu, yang memahami betapa pentingnya ajaran di tengah-tengah persekutuan. Ajaran itu hanya dua 'heavenly minded' and 'simplicity of heart'.
​​
2. di rumah (ayat 46)
​​
Jika di bait Allah terbentuk komunitas yang belajar maka di rumah terbentuk komunitas yang makan bersama. Makan lalu menjadi peristiwa teologis sebab dalam makan semua anggota mengalami kesetaraan. Di meja makan tiap rumah Allah hadir dengan berkat-Nya dan terbentuklah komunitas yang tulus hati (simplicity of heart). Maka bait Allah dan rumah adalah wilayah yang tidak bisa dipisahkan sebab apa yang terjadi di Bait Allah menemukan bentuknya yang indah di rumah.
​​
Di rumah terwujudlah sukacita setiap anggota keluarga yang dialami karena hadirnya penerimaan satu dan lain. Mereka dipersekutukan dalam ikatan yang mencengangkan sehingga dikatakan ada suasana ketakutan (ayat 43) yang lebih berarti rasa takjub.
Tuhan terlibat secara langsung dalam tindakan yang menyatakan damai sejahtera sehingga baik di Bait Allah maupun di rumah, keterlibatan Allah tidak pernah diabaikan.
​​
Bagaimanakah dengan rumah kita, adakah sukacita di meja makan keluarga dan kegembiraan bersama. Apakah rumah telah menjadi ruang yang menghadirkan kegembiraan sebab damai sejahtera Tuhan hadir?. Atau saat ini rumah kita masih diselimuti oleh awan kecewa, gelapnya pertikaian anggota keluarga bahkan tetesan airmata. Di rumah kita perlu memahami bahwa Tuhan selalu hadir disana untuk memberi kekuatan, memberi segelas air sukacita di tengah dahaga akan kebenaran. Di rumah kita tersedia makanan yang menyehatkan di tengah laparnya keadilan. Di rumah kita tersedia kegembiraan yang mempesona di tengah gelapnya keputusasaan.
​​
Inilah rumah kita yang bernama GPIB, dengan pintu yang selalu terbuka menerima mereka yang lunglai dan berbeban berat. Gereja ini bagai rumah yang meyediakan hal-hal yang baik sebab siapkah yang mau meletakkan bencana di rumah sendiri. Di rumah ini tangis bahagia dapat berpadu dengan senyum yang menawan. Di rumah ini tersedian ruang yang lebih dari cukup untuk setiap individu mengalami sukacita.
​​
Sahabat-sahabat yang terkasih,
Maka jangan lupakan dua hal ini yaitu : korelasi gereja dan rumah serta gerak dari dalam keluar. Sebab hanya dalam penghayatan demikian maka setiap orang semakin cerdas dan tulus ketika hadir di gereja dan rumah yang bernama GPIB.
Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin
​​
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH




