
Jadwal Ibadah
16 Agustus 2026
Minggu XII Sesudah Pentakosta
09.00 WIB | Pdt. Egbert Parasian Sihombing
(PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih Jakarta)
17.00 WIB | Pdt. A. J. M. Loppies - Mustamu
17 Agustus 2026
Upacara dan Ibadah Syukur HUT ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia
09.00 WIB | Pdt. Murwanto Moesamo
23 Agustus 2026
Minggu XIII Sesudah Pentakosta
09.00 WIB | Pdt. Francisca H. E.
Toding Datu - Manuputty
(PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih)
17.00 WIB ~ Corak Muda~
Pdt. Egbert P. Sihombing
(PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih)
Minggu, 23 Agustus 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 23 Agustus 2026
IHMPT Khotbah Tematis bulan Agustus 2026
SURVIVAL :
How To Live by Faith in a Broken World
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, Lt. 1​
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
JANGAN TERKUNGKUNG, SEGERALAH MUNCUL
( 2 Raja-raja 6: 1-7 )
------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat terkasih;
Dalam Alkitab tidak kita jumpai kata 'produktif' namun dalam pengajaran Yesus, Ia mengarahkan para murid untuk menjadi murid yang 'produktif'. Kata yang dipergunakan Yesus adalah berbuah (Yoh. 15:8) dan tidak sekedar berbuah tetapi berbuah banyak. Berbuah kemudian menjadi tanda bahwa kasih karunia Allah terus dikumandangkan serta kehidupan yang dianugerahkan menjadi berarti. Kehidupan yang berarti adalah kehidupan yang tidak terkungkung oleh peristiwa tetapi mampu menemukan cara mengatasinya sebab bertumpu pada sudut pandang yang baru, sudut pandang keterlibatan karya Allah.
​​​​​
Dalam kisah Elisa hari ini dikemukakan bahwa rombongan nabi yang kekurangan ruang mendorong mereka harus berupaya membangun ruang yang baru (ayat 2) mendapat persetujuan Elisa. Keterlibatan Elisa tidak hanya ketika memberi ijin untuk pergi tetapi terlibat dalam menjawab ajakan para nabi. Elisa tidak sekedar setuju tetapi terlibat dalam persetujuan itu yakni membangun ruang baru. Elisa hadir dan memberi diri terlibat sebagai pendamping murid-muridnya.
Elisa tidak berdiam diri namun memberi jawaban kongkrit atas ajakan para murid. Elisa tidak sekedar mendidik murid-muridnya tetapi sekaligus terlibat dalam upaya mereka menjadi produktif. Kebutuhan akan ruangan yang baru menjelaskan hal tersebut.
​
Sahabat-sahabat terkasih,
Melalui perikop bacaan hari ini dikemukakan juga hal penting yang harus dilakukan bukanlah sekedar perintah tetapi kesediaan untuk menjadi teladan. Soal keteladanan inilah penting agar di tengah simpang siurnya berita tentang hilangnya keteladanan setiap orang percaya tetap teguh menjadi teladan.
​​
Keteladanan bukan soal pangkat dan jabatan, bukan soal tinggi rendah tetapi soal integritas, soal kata dan akta yang semakin menguat dari hari ke hari.
Di sisi lain bagaimana cara para murid Elisa mengatasi persoalan adalah persoalan (ayat 5). Persoalan tidak selesai hanya dengan berteriak, persoalan tidak selesai hanya dengan mencari kambing hitam. Persoalan hanya dapat dicari solusinya ketika diketahui posisi dari 'jatuhnya mata kapak di air'. Mengetahui posisi ini penting sebab tanpa memahami posisi diri maka kehidupan menjadi tidak tertib. Seorang murid harus memahami posisinya sebagai murid, seorang pendidik harus memahami posisinya demikian. Maka melalui perikop ini hendak dikemukakan sebuah pengajaran yang perlu diperhatikan, yakni:
​
1. Jadilah Teladan, itulah keberhasilan (ayat 1-3)
Kata berhasil sangat diharapkan semua orang sebab siapakah yang mau gagal? Berbagai seminar motivasi hanya berujung pada harapan berhasil. Apakah cita-cita untuk berhasil adalah kesalahan? Jawabnya tentu tidak salah tetapi apakah yang bisa diteladani dari keberhasilan? Bacaan ini menunjukkan bahwa mata kapak yang jatuh ke sungai terjadi ketika diperlukan ruang yang lebih luas, artinya ada penambahan, ada perubahan yang positif. Keberhasilan Elisa dalam mengajar ternyata disertai juga dengan keteladanan yakni ikut terlibat dan bukan sekedar perintah (ayat 2 dan 3). Elisa memperlihatkan metode pengajaran yang tetap relevan sampai sekarang yakni selarasnya kata dan tindakan.
​
Kebersamaan nabi Elisa dengan para muridnya menjadi simbol penting bahwa setiap keberhasilan patut diwaspadai. Keberhasilan yang diwaspadai adalah keberhasilan yang tetap bernilai karena tidak membuat antusiasme berkurang, sebaliknya semakin bermakna.Maka kepada kita, jika diajukan pertanyaan 'maukah berhasil?' tentu saja kita mau, tetapi maukah menjadi teladan? Ini yang berat. Ini membutuhkan kesediaan untuk terus belajar seperti murid-murid Elisa. Kesediaan belajar di kehidupan yang dijalani, kesediaan untuk waspada terhadap berbagai godaan (bandingkan 1 Petrus 5:8). Keteladanan adalah soal mengakui bahwa diri terbatas dan memerlukan Allah yang tidak terbatas. Mengakui bahwa diri lemah dan membutuhkan Allah yang kuat. Jadi keteladanan bukan soal menjadi superman tetapi menjadi manusia yang selalu berjaga-jaga. Demikianlah dengan keluarga. Keluarga- keluarga Kristen memerlukan keteladanan yang bertumpu pada kesadaran bahwa keluarga adalah ruang penyembuhan dan bukan ruang penyakitan. Keluarga menjadi teladan ketika suami-istri memahami bahwa mereka saling memerlukan dan bukan saling bersaing. Mereka saling melengkapi dan bukan saling melukai. Mereka saling menopang dan bukan saling menohok. Keberhasilan dalam perspektif ini adalah keberhasilan yang utuh, yang bulat, yang menyeluruh. Jadilah teladan, itulah keberhasilan.
2. Tempat yang tepat adalah solusinya (ayat 6-7)
Memahami posisi yang tepat, mengetahui tempat yang tepat adalah hikmat yang mendatangkan solusi (band. Amsal 16:25). Banyak persoalan timbul karena tidak tahu tempat yang tepat, tidak tahu waktu yang tepat, tidak menempatkan diri secara tepat. Banyak keluarga tidak bisa menghadirkan damai sejahtera sebab tidak memposisikan diri secara tepat.
Suami-istri saling membelakangi, orangtua dan anak saling menyakiti. Memahami posisi yang tepat artinya memahami bahwa semua bisa dilakukan tetapi tidak semua BOLEH dilakukan. Dalam bacaan ini dikemukakan bahwa Elisa memposisikan diri secara tepat, tidak bersikap impulsive seperti murid- muridnya, tetapi mengambil posisi yang tepat. Kata 'abdi Allah' – di ayat 6 menunjukkan bahwa Elisa tidak akan gegabah dalam menentukan sikap.
Abdi Allah menjelaskan bahwa relasinya dengan Allah berlangsung secara utuh dan dikuasai oleh Allah. Sebagai abdi Allah maka Elisa menunjukkan betapa berkuasanya Allah. Elisa hanyalah alat di tangan yang tepat, tangan Allah sehingga mampu mengatasi masalah. Pengajaran ini penting agar menempatkan diri pada posisi yang tepat adalah bagian dari relasi dengan Allah. Menentukan posisi sebagai orang muda terhadap orang tua dan juga sebaliknya. Menjaga pikiran untuk tetap bersih dari berbagai hal yang jahat agar dapat berdiri di posisi yang tepat adalah solusi atas berbagai masalah. Banyak masalah semakin rumit ketika pertimbangan-pertimbangan yang sehat dan rohani tidak lagi diperhatikan. Tahu diri adalah sebuah sikap yang arif sebab menunjuk kepada orang lain bukankah itu menunjuk diri sendiri? Tahu diri itu penting sebab disitulah letak kedewasaan seseorang dalam menjalani kehidupan. Selaku orang percaya kita semua diundang untuk memahami siapa kita sebenarnya di hadapan Allah. Allah mengasihi kita dengan kasih yang membuat kita berada di posisi yang baru, posisi yang tepat. Melalui pemahaman demikian maka kehidupan kita pun dapat menemukan solusi ketika pergumulan mendera.
​​
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dengan pengajaran inilah hendak dikemukakan kepada kita semua bahwa sebagai pengikut Yesus kita mewujudkan cara hidup yang bernilai tinggi yakni hidup yang menjadi teladan. Kita menjadi teladan karena kita berada di tempat yang tepat. Maka jangan terkungkung oleh persoalan, segeralah muncul untuk terus menjadi berkat.
Maka pesannya jelas bagi setiap kita, jadilah teladan dan pahami posisi anda.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin
​​
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH




