top of page
Lukas 13 : 29
"Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan,
dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah."
DSC09246.JPG

Jadwal Ibadah

10 Mei 2026
Minggu VI Sesudah Paskah

09.00 WIB |  Pdt. Francisca H. E.

Toding Datu - Manuputty

(PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih)

17.00 WIB |  Pdt. Junita Jane Joana Loen - Ulaan, S.Si-Teol
(PJ GPIB Jemaat Effatha Jakarta Selatan)

Kamis, 14 Mei 2026
Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga

09.00 WIB |  Pdt. Murwanto Moesamo

PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih

17 Mei 2026
Minggu Pemuliaan Yesus Kristus

09.00 WIB |  GPIB Bukit Moria

17.00 WIB |  Vik. Almeidika Anindia

Minggu, 17 Mei 2026

Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1

Minggu, 3 Mei 2026

Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1

Khotbah Tematis

"Loved & Worthy"

Minggu, 10 Mei 2026

Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1

Khotbah Tematis

"Hope in Uncertainty"

Minggu, 17 Mei 2026

Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1

Khotbah Tematis

"Peace Beyond Chaos"

RENUNGAN DARI MEJA PENDETA

MEMBERI YANG TERBAIK DARI CARA HIDUP YANG BAIK

( Imamat 1: 1 - 9 )

------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Relasi Allah dan manusia adalah relasi yang hidup. Artinya relasi tersebut dibangun oleh Allah yang membebaskan umat agar menemukan nilai kehidupan yang bermutu. Relasi antara Allah dan manusia bukanlah relasi dengan dewa-dewi yang tidak hidup sehingga Allah harus dihayati umat sebagai Allah yang hidup.

Kualitas kehidupan manusia nampak dari cara manusia memelihara relasi yang hidup dengan Allah. Manusia yang menghayati hubungannya dengan Allah sebagai hubungan yang hidup akan menyambut hubungan tersebut dengan sukacita. Artinya ketika manusia memahami bahwa Allah adalah Allah yang hidup maka semua karyanya diterangi dengan semangat kehidupan.

​

Dalam bacaan kita saat ini dikemukakan bahwa hubungan umat dengan Allah ditandai dengan persembahan kurban dengan segala aturannya. Hal ini dimulai dengan pernyataan Allah kepada Musa di Kemah Pertemuan. Perjumpaan Allah dan Musa adalah perjumpaan antara manusia penerima hidup dan Allah pemberi kehidupan. Firman Allah sekaligus menjadi penanda tentang pentingnya memahami diri sendiri di hadapan Allah yang memberi kehidupan. Maka pengajaran yang kita dapatkan dari
perikop ini adalah:

 

1. Perintah tentang tata laksana persembahan ditujukan kepada umat Israel tanpa kecuali (ayat 2).
Umat yang hendak memberi persembahan adalah umat yang harus menyadari bahwa kurban persembahannya kepada Allah haruslah yang terbaik yang tidak bercela (ayat 3). Dengan memberi persembahan yang terbaik maka hendak dikemukakan kepada umat betapa luhurnya Allah dan betapa rapuhnya manusia. Allah yang mulia adalah Allah yang menyatakan kasih-Nya kepada umat dengan memberi kehidupan. Umat tidak berada dalam ancaman kematian sebagaimana di Mesir tetapi umat telah memasuki ruang kehidupan yang disediakan Allah. Jika hidup itu sudah menjadi milik umat maka mereka perlu untuk terus menjaga kehidupan mereka sebagai jawaban atas kebaikan Allah. Untuk itulah mereka memberi persembahan atau kurban bakaran yang terbaik kepada Allah, bukan untuk kepentingan Allah tetapi untuk kepentingan umat. Kurban bakaran itu bukan untuk mengendalikan wewenang Allah tetapi untuk menunjukkan bahwa Allah terlibat dalam kehidupan umat.

Hal ini berarti seluruh umat Israel patut menghargai kehidupan anugerah Allah dan karena itu mereka memberi korban syukur sebagai bentuk penghargaan mereka pada anugerah Allah. Tatanan persembahan itu untuk memperlihatkan bahwa Allah memang menjumpai manusia dan menyatakan tindakan pembebasan yang menghidupkan namun sekaligus adalah Allah yang kemulian-Nya tidak boleh diabaikan.

Umat yang memberi persembahan (kurban bakaran) adalah umat yang memahami bahwa hidup yang adalah anugerah-Nya haruslah diwujudkan dengan baik. Maka manusia yang memuliakan Allah adalah manusia yang tidak hanya berpikir tentang persembahan terbaik tetapi bahkan hidupnya haruslah dijalani dengan baik (Roma 15:7)

​

Sahabat-sahabat terkasih,
Kurban persembahan yang diwujudkan oleh Yesus Kristus adalah sebuah tindakan yang menghidupkan. Apa yang terwujud dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus memberi kepastian bahwa manusia perlu mewujudkan kebajikan hidupnya (Yakobus 2:8) sebagai kurbanı persembahan yang terbaik.

Pada masa ini di tengah suasana yang tidak pasti tentang kebenaran yang menghidupkan maka kepada kita semua dinyatakan kebaikan Allah yang selalu pasti menghadirkan kehidupan. Kita memberi persembahan yang terbaik namun juga perlu diperhatikan agar hidup kitapun adalah hidup yang terbaik sebab hanya dari kehidupan yang terbaik maka persembahan menjadi persembahan yang terbaik.

​

2. Persembahan itu adalah persembahan pendamaian yang berujung pada menyenangkan hati Tuhan (ayat 9). Persembahan yang menyenangkan hati Tuhan, siapakah yang tidak merindukan hal demikian. Menyenangkan hati Tuhan atau yang manis bagi Tuhan (sweet savour-KJV) hanya bisa terwujud dalam ketaatan. Kurban persembahan yang menyenangkan hati Tuhan tidak terlepas dari gaya hidup yang taat kepada Tuhan. Ketaatan demikian adalah ketaatan yang terbentuk dari pemahaman yang kuat bahwa cita-cita untuk menyenangkan hati-Nya berawal dari ketaatan. Kisah Abraham yang taat pada Allah ketika hendak mepersembahkan Ishak sebagai kurban bakaran (Kej. 22:2) menjadi pola ketaatan yang utuh. Persembahan yang harum bagi Tuhan juga dipersembahkan oleh Nuh seorang yang taat sebagaimana dinyatakan dalam Kejadian 8: 20-21. Ketaatan itu berarti pikiran dan tindakan yang tetap konstan, tidak berubah-ubah sekalipun kenyataan bisa berubah. Sikap taat dan setia bukanlah sikap sederhana melainkan sikap yang bermutu bahwa hidup anugerah-Nya memang berkualitas.

​

Sahabat-sahabat yang terkasih,
Ketaatan sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus kepada Bapa-Nya adalah model ketaatan yang perlu dihidupkan dalam kehidupan kita. Ketaatan yang berpengaruh besar pada setiap bentuk persembahan sehingga berbau harum dihadapan Sumber Kehidupan.

Maka ketaatan pada aturan yang ditetapkan adalah ketaatan yang bermuara pada kehidupan dan dilakukan sebagai wujud hormat dan takjub. Persembahan/kurban bakaran bukanlah ruang kendali untuk mengarahkan Allah namun bentuk pernyataan yang kongkrit bahwa hidup kita adalah hidup yang taat kepada-Nya.

Maka dihari-hari yang menantang kehidupan baiklah kita selalu taat kepada-Nya agar kehidupan semakin bernilai dan setiap bentuk kurban bakaran selalu berbau harum. Hadirlah dengan kehidupan yang berkualitas sebab Ia yang memberi hidup selalu menyertai kita dan tidak terpesona dengan persembahan kita tapi kagum dengan ketaatan.

​

Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia.
Amin.

(www.aletlora.com)

KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH

DSC09191.JPG

Address

Jl. Lebak Bulus III No. 50, 
Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 12440

Phone

021-765-5527

Email

Connect

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram

© 2022 - 2026 GPIB Jemaat Sumber Kasih DKI Jakarta. ALL RIGHT RESERVED.

bottom of page