
Minggu, 19 April 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 19 April 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
PASKAH DAN HIKMAT
( Amsal 8 : 13 - 16 )
------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Hikmat, adakah hikmat pada masa kini? Ketika ketimpangan menjadi hal biasa dan jurang miskin-kaya semakin menganga, dimanakah hikmat, ketika seruan keadilan bak membuang garam ke laut. Jika hikmat adalah kecerdasan dalam mengelola keselarasan hati dan pikiran maka hikmat masa kini telah mengalami reduksi makna yang besar. Hikmat masa kini adalah hikmat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan bahkan sampai menyangkal hati nurani. Hikmat bukan lagi suara hati yang cerdas dalam menjawab kenyataan tetapi suara lantang tentang kekuasaan dan bersifat tiran.
Hikmat menjadi ayam sayur yang tidak berdaya oleh gempuran dan terjangan dari serigala jaman. Maka dalam konteks demikian hadirlah hikmat yang kehilangan nyali dan taji untuk menampilkan wajah yang berwibawa.
Sungguh hikmat menjadi barang mewah yang tidak lagi ranum pada musimnya, tetapi membusuk dalam keranjang jaman dengan segala ikatan yang menumpulkan kemampuannya. Hikmat dewasa ini adalah percakapan orang yang putus asa sementara di sisi lain orang berbicara tentang memanfaatkan peluang di atas penderitaan orang lain. Hikmat yang hadir saat ini adalah hikmat dengan tampilan yang wangi dan gincu yang merah serta aroma parfum yang menyentak.
Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Tuhan Yesus;
Hikmat dalam bacaan ini menampilkan wajah aslinya sebab didasari dengan pernyataan yang sakral dan kudus. Pada bacaan ini nampak hikmat hadir dengan wajah yang kokoh dan dagu persegi melambangkan kekerasan kemauan untuk melakukan yang terbaik. Hikmat dalam bacaan kita adalah hikmat yang tampil sederhana tetapi dengan pengaruh yang kuat dan tidak terjebak pada berbagai komoditas. Hikmat seperti ini tidak bisa diperjualbelikan apalagi ditakar dengan takaran masa kini yang hedonis dan selalu merampok ruang kesejahteraan.
​
Hikmat dalam konteks inilah yang membedakan seseorang yang memeluknya seperti memeluk kekasih yang dilandasi dengan hati yang merindu. Maka takut akan Tuhan (ayat 13) bukanlah episode kering penuh basa-basi sebab bukankah pada hari suci banyak orang beribadah tetapi sekaligus pararel dengan tingkat korupsi yang mendunia. Hikmat dalam bacaan ini bukanlah hikmat yang sederhana tetapi kompleks namun dapat terurai dalam kesederhanaan pikiran dari jiwa yang merdeka. Artinya seorang yang dalam kemerdekaan memeluk hikmat maka ia tumbuh besar dalam kekuatan yang baik. Daniel dalam Dan. 2:20 mengemukakan hal demikian bahwa pada Allah ada hikmat dan kekuatan. Inilah perwujudan dari sebuah kombinasi indah, ada hikmat tetapi juga ada kekuatan.
​
Berdasarkan hal itu maka dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Hikmat dan takut akan Tuhan merupakan persatuan bukan sesuatu yang ditambahkan. Hikmat dan takut akan Tuhan merupakan rumus kehidupan yang dapat menghadirkan kekuatan untuk menatap segala persoalan dan pergumulan. Hikmat dan takut akan Tuhan adalah sepasang kekasih yang terus hadir dengan kemauan menghormati dan memperlakukan pasangan dengan baik.
Karena itu hikmat dan takut akan Tuhan menjadi pondasi setiap pribadi yang gelisah untukmemberlakukan kebajikan bagi sesama. Ini bukan sekedar tindakan filantropis tetapi sebuahkemauan yang bertumbuh dari kesadaran iman yang kokoh. Paulus bahkan dengan lantang kemukakan bahwa '....oleh Dia kamu telah menjadi hikmat ....(1 kor. 1 :30). Ini berarti hikmat adalah sebuah kenyataan yang melekat pada diri seseorang sebagai hasil dari perjumpaan dengan realitas – horisontal atau dengan Tuhan – vertical. Maka takut akan Tuhan terwujud dalam keanggunan pribadi yang terus mengalami pembaruan.
Maka pada saat inilah kita semua menyatakan bahwa hikmat dan takut akan Tuhan menjadi penting untuk tidak sekedar merumuskan makna hidup melainkan memberi nilai terhadap kehidupan itu sendiri.
​
2. Ayat 14-15. Sebuah kedudukan yang tinggi dengan pengaruh yang besar memerlukan kepiawaian dalam mengelola unsur negative dalam diri. Sombong, congkak, tingkah laku yang jahat penuh tipu muslihat, semuanya menjadi kekuatan destruktif yang hanya bisa ditaklukkan oleh takut akan Tuhan. Maka seluruh kehadiran selaku umat Tuhan yang senantiasa bersedia mengalami pembaruan adalah bahan mentah dari hikmat.
Pada saat inilah seluruh perhatian kita menjadi berarti, ketika menyadari bahwa dalam kerendahan hati tugas besar dan mulia dapat dijalankan dengan piawai. Pada saat inilah kita dapat memahamai bahwa penilaian terhadap sesama dengan memperhatikan rupa luar saja adalah kegagalan.
​
3. Ayat 16. Hikmat hadir dengan kasih besar untuk mengangkat wibawa dan martabat seseorang. Hal ini nampak dari hasil karya dan hasil kerja yang menjadi penilaian. Hikmat kemudian tampil mempesona dengan ukiran kayu yang rumit dan mahal. Maka jangan abaikan hikmat ketika mengambil keputusan besar.
​
Paskah dan Hikmat adalah bentuk nyata dari Kasih karunia Allah, sebab kehadiran keduanya selalu bertaut pada militansi. Paskah dan Hikmat adalah ruang kesejahteraan yang tidak terkontaminasi energy destruktif. Jika Paskah adalah kemenangan atas maut maka disana pun tampil Hikmat yang tak terkoyak oleh kejahatan. Paskah dan Hikmat berpelukan dalam semangat memanusiakan sesama dan tidak terjebak pada kata orang dan bukan kata Tuhan. Maka berpikirlah keras ketika kita hendak merayakan Paskah supaya Hikmat terus hadir dengan pesona yang menghidupkan dan bukan kematian sesudah kebangkitan.
Selamat Paskah.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia.
Amin.
​
​
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH




