top of page
Lukas 13 : 29
"Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan,
dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah."
DSC09246.JPG

Jadwal Ibadah

18 Juli 2026
Minggu VIII Sesudah Pentakosta
~ HUT PelKat GP ~

09.00 WIB | Pdt. Em. Jeffrey W. Ch. Sompotan

17.00 WIB | Pdt. Agus Sugiarto, S.Si Teol

(KMJ GPIB Jemaat Setiabudi Jakarta)

26 Juli 2026
Minggu IX Sesudah Pentakosta
~ HUT Yayasan Diakonia GPIB ~

09.00 WIB | Pdt. Hendry Victory Sihasale
(KMJ GPIB Jemaat Betlehem Jakarta Pusat)

17.00 WIB | Pdt. Alexius Letlora

(KMJ GPIB Jemaat Sumber Kasih Jakarta)

Minggu, 26 Juli 2026

Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1

Minggu, 26 Juli 2026

Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, Lt. 1​

RENUNGAN DARI MEJA PENDETA

KOMUNITAS KRISTEN

( Kisah Rasul 2 : 41 - 47 )

------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus;
Sebuah persekutuan yang terbentuk dari kesadaran kolektif tentang karya Allah yang besar sebagaimana
dikhotbahkan Petrus menjadi persekutuan yang lebih solid (firm). Persekutuan semacam ini dilandasi pemahaman
yang sangat mendasar bahwa hadirnya eksistensi mereka tidak terlepas dari kuasa yang bergerak 'dari luar' ke
'dalam' yakni kuasa Roh Kudus. Kuasa inilah yang beroperasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan ruang gerak
yang luas mengekspresikan kehadiran-Nya. Inilah persekutuan yang memahami bahwa kebutuhan individu tidak
menjadi penghambat untuk memasuki ruang komunitas. Maka Roh yang tadinya bergerak dari luar ke dalam kini
menghantar mereka juga untuk bergerak dari dalam ke luar.

​​

Gerak dari dalam ke luar inilah yang mengharumkan persekutuan sebab kehadirannya tidak dikemas dengan
agenda tersembunyi. Gerak ini adalah gerak yang tulus dan bertumpu pada ajaran yang benar (ayat 42) dan tampil
dalam tindakan yang tulus ketika berjumpa dengan sesama. Komunitas berbasis kejernihan pikiran dan ketulusan
hati merupakan pintu masuk untuk berjumpa dengan dunia yang sangat kusut pikirannya karena dipenuhi dengan
keculasan dan hati yang hitam pekat karena diselimuti kejahatan.

 

Sahabat-sahabat yang terkasih didalam Tuhan Yesus;
Persekutuan yang hadir di awal era ke-Kristen-an menjadi persekutuan yang hadir sebagai oase di tengah keringnya
komunitas waktu itu. Daya dan ruang untuk mengalami kebersamaan seolah fatamorgana dan tidak bermakna.
Persekutuan inilah jawaban atas kerinduan yang selama ini terpendam jauh dalam sanubari. Maka ketika sebuah
komunitas baru dengan semangat baru tampil menawarkan kesahajaan dan ketulusan, bukan saja jumlah tiga ribu
orang yang memberi diri mereka, tetapi kualiats persekutuan itu semakin bertumbuh. Angka memang
mencengangkan tetapi tidak boleh berhenti pada angka sebab kualitas tidak dapat diabaikan. Apa yang
diperlihatkan dalam persekutuan ini adalah kualitas dari pengenalan akan Yesus dan loyalitas pada ajaran yang
hasilnya sungguh dahsyat.

​

Karena itu gereja sebagai persekutuan bukanlah koalisi yang sifatnya jangka pendek dan sarat dengan agenda
tersembunyi. Persekutuan dan bukan koalisi yang harus dibatasi oleh sebuah garis tegak yang lurus untuk
membedakannya. Persekutuan yang selalu hadir dalam kepedulian melawan koalisi yang hipokrit dan penuh
dengan rencana untuk diri sendiri.

Disinilah kita hadir dengan seksama untuk memeriksa diri sendiri sejauh mana persekutuan ini masih murni atau
jangan-jangan sudah berubah menjadi koalisi. Kita perlu awas agar tidak terjebak dengan kegembiraan sesaat
karena jumlah (uang maupun anggota) tetapi fokus kepada ajaran. Disinilah hadir 2 wilayah yang tidak boleh
dipisahkan yakni bait Allah dan rumah.

 

1. Di Bait Allah (ayat 46),persekutuan itu berkumpul setiap hari menunjukkan bahwa pengajaran ini penting.
Pengajaran ini harus terus digemakan dalam persekutuan supaya tidak terjebak dengan ajaran-ajaran palsu yang
mempesona sesaat tetapi mematikan secara kekal. Di bait Allah umat berkumpul mempercakapkan segala
perbuatan Allah dan menghayatinya dalam diri. Bait Allah tidak lagi sebuah bangunan angker tentang kekuasaan
elite agama tetapi tempat yang bersahabat untuk sebuah perbincangan dan pendalaman terhadap karya Ilahi.

​

Sudahkah gereja menjadi ruang yang ramah untuk sebuah persekutuan sehingga yang papa sekalipun tidak merasa
risih untuk hadir. Sudahkah gereja ini menjadi ruang yang luas bagi setiap warga untuk menyampaikan isi hatinya?
Inilah pertanyaan yang harus terus digumuli sebab ketika gereja tidak lagi menjadi persekutuan tetapi koalisi maka
murka Tuhan akan hadir disana. Bait Allah adalah bukti yang sahih tentang hal itu. Gereja yang hadir dengan
kejernihan pikiran dan hati yang bersih akan menjadi sarana hebat bagi pertumbuhan iman sebab banyak orang
dapat melihat mujisat (ayat 43).

​

GPIB adalah wajah persekutuan yang fokus pada ajaran sekalipun bergulat dengan tantangan. Gereja ini menjadi
Rahim lahirnya anak-anak muda yang bersedia diutus kemanapun. Gereja inilah yang mengalami karya Allah secara
luar biasa tetapi tidak membuatnya mengalami kegembiraan sesaat.

​

Kita adalah persekutuan itu, yang memahami betapa pentingnya ajaran di tengah-tengah persekutuan. Ajaran itu
hanya dua 'heavenly minded' and 'simplicity of heart'.

​

2. Di rumah (ayat 46)
Jika di Bait Allah terbentuk komunitas yang belajar maka di rumah terbentuk komunitas yang makan bersama.
Makan lalu menjadi peristiwa teologis sebab dalam makan semua anggota mengalami kesetaraan. Di meja makan
tiap rumah Allah hadir dengan berkat-Nya dan terbentuklah komunitas yang tulus hati (simplicity of heart). Maka
Bait Allah dan rumah adalah wilayah yang tidak bisa dipisahkan sebab apa yang terjadi di Bait Allah menemukan
bentuknya yang indah di rumah.

​

Di rumah terwujudlah sukacita setiap anggota keluarga yang dialami karena hadirnya penerimaan satu dan lain.
Mereka dipersekutukan dalam ikatan yang mencengangkan sehingga dikatakan ada suasana ketakutan (ayat 43)
yang lebih berarti rasa takjub.

​

Tuhan terlibat secara langsung dalam tindakan yang menyatakan damai sejahtera sehingga baik di Bait Allah
maupun di rumah, keterlibatan Allah tidak pernah diabaikan. Bagaimanakah dengan rumah kita, adakah sukacita di
meja makan keluarga dan kegembiraan bersama. Apakah rumah telah menjadi ruang yang menghadirkan
kegembiraan sebab damai sejahtera Tuhan hadir?. Atau saat ini rumah kita masih diselimuti oleh awan kecewa,
gelapnya pertikaian anggota keluarga bahkan tetesan airmata. Di rumah kita perlu memahami bahwa Tuhan selalu
hadir disana memberi kekuatan, memberi segelas air sukacita di tengah dahaga akan kebenaran. Di rumah kita
tersedia makanan yang menyehatkan di tengah laparnya keadilan. Di rumah kita tersedia kegembiraan yang
mempesona di tengah gelapnya keputusasaan.

​

Inilah rumah kita yang bernama GPIB, dengan pintu yang selalu terbuka menerima mereka yang lunglai dan
berbeban berat. Gereja ini bagai rumah yang meyediakan hal-hal baik sebab siapakah yang mau meletakkan
bencana di rumah sendiri. Di rumah ini tangis bahagia dapat berpadu dengan senyum yang menawan. Di rumah ini
tersedia ruang yang lebih dari cukup untuk setiap individu mengalami sukacita.

​

Sahabat-sahabat yang terkasih,
Maka jangan lupakan dua hal ini yaitu : korelasi gereja dan rumah serta gerak dari dalam keluar. Sebab hanya dalam
penghayatan demikian maka setiap orang semakin cerdas dan tulus ketika hadir di gereja dan rumah yang bernama
GPIB

Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

​

(www.aletlora.com)

KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH

IBADAH PKB (1).jpeg
DSC09191.JPG

Address

Jl. Lebak Bulus III No. 50, 
Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 12440

Phone

021-765-5527

Email

Connect

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram

© 2022 - 2026 GPIB Jemaat Sumber Kasih DKI Jakarta. ALL RIGHT RESERVED.

bottom of page