
Jadwal Ibadah
22 Februari 2026
Minggu VI Prapaskah
09.00 WIB (Khotbah Tematis) | Pdt. Alexius Letlora
~KMJ GPIB Jemaat Sumber Kasih~
17.00 WIB (HUT PelKat PKP GPIB) |
Pdt. Zakarias Marthin Tuarissa S.Th.
~PJ GPIB Petra Bogor~
1 Maret 2026
Minggu V Prapaskah
09.00 WIB (HUT ke 421 GPI) |
Pdt. Francisca H. E. Toding Datu - Manuputty
~PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih~
17.00 WIB | Pdt. (Em) Jeffrey W. Ch. Sompotan
8 Maret 2026
Minggu IV Prapaskah
09.00 WIB (HUT ke 421 GPI) |
Pdt. Francisca H. E. Toding Datu - Manuputty
~PJ GPIB Jemaat Sumbe Kasih~
17.00 WIB | Pdt. (Em) Slamet Iskandar
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat lt. 1
Pukul 09.00 WIB | R. Paulus & Timotius lt. 1
Kamis, 10 Maret 2026
Ruang Serbaguna 2
GPIB Jemaat Sumber Kasih
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
KEINGINAN YANG MEMIKAT
(Yakobus 1: 12 - 15)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Relasi antara Allah dan manusia dapat dilihat dari tingkatan spiritual yang sangat berkaitan dengan tingkat kedewasaan atau ketidakdewasaan seseorang. Ini penting sebab dalam sebuah relasi yang terjadi antara Allah dan manusia maka berapa nilai yang ditempatkan menjadi sangat berpengaruh. Jika nilai yang ditempatkan dalam relasi itu rendah maka rendah juga kualitas relasi tersebut. Jika nilai yang ditempatkan tinggi maka tinggi juga kualitas relasi
tersebut. inilah yang akan sangat menentukan bagaimana setiap orang percaya berhadapan dengan ujian dan pencobaan. Tingkatan relasi tersebut adalah kewajiban, kebutuhan dan cinta. Ketika relasi kita dengan Allah hanya didasarkan pada kewajiban maka kualitas relasi tersebut akan mudah tergoda untuk melakukan apa yang tidak dikehendaki-Nya.
​
Jika relasi itu berdasarkan kebutuhan maka kualitasnya bersifat untung-rugi sehingga hubungan Allah dan manusia hanya ditempatkan dalam seberapa besar keuntungan saya. Puncak dari relasi antara Allah dan manusia adalah cinta.
Dalam cinta manusia tidak lagi berorientasi pada dirinya sendiri tetapi mengarah kepada yang dicintainya. Sehingga dalam cinta terwujud kualitas relasi yang tidak didasarkan pada kewajiban atau kebutuhan.
​
Bagaimana hal ini berkaitan dengan teks bacaan kita saat ini?
Pengajaran apakah yang kena mengena dengan kondisi saat ini? Pengajaran Yakobus kepada jemaat Kristen di Yerusalem yang mengalami pergumulan yang berat dan menantang adalah dengan mengingatkan jemaat agar selalu memperhatikan hal ini:
1. Pencobaan dan Kebahagiaan (ayat 12)
Yakobus mengingatkan bahwa ditengah situasi sulit yang dialami orang percaya maka Pencobaan yang dialami
adalah pencobaan yang tidak berasal dari Allah (ayat 13). Allah tidak akan mencobai manusia agar manusia
menjadi berdosa dan Allah yang sama akan megampuni. Allah tidak akan mencobai manusia sebab Ia sendiri tidak
merancang kejahatan. Pribadi Allah yang suci tidak dapat disandingkan apalagi dicampur dengan dosa (band.
Yesaya 59:2, 1 Yohanes 1: 5)
​
Maka ketika pencobaan menjadi peristiwa yang dialami orang percaya dan mendatangkan penderitaan maka setiap
orang percaya harus menelisik dirinya sendiri. Bagaimanakah hubungan saya dengan Allah, apakah masih dalam
tataran kewajiban? Jika demikian maka setiap penderitaan yang dialami dapat menjadi alasan kuat untuk
merendahkan-Nya. Penderitaan menjadi pendorong utama untuk bisa meninggalkan Allah dan berpaling dari-Nya.
​
Di sisi lain jika relasi itu adalah relasi untung-rugi maka dihadapkan dengan penderitaan akibat pencobaan, kita
dapat dengan segera berpaling dari-Nya.Namun jika relasi antara Allah dan manusia adalah relasi cinta maka
penderitaan memang tidak menyenangkan namun karena cinta yang dimiliki maka penderitaan membuat kita
semakin dewasa dalam iman. Pencobaan tidak lagi dipahami sebagai akhir kehidupan tetapi dalam relasi cinta kita
menghayatinya bahwa penderitaan akibat pencobaan dihadapi bersama-Nya. Ia yang terus menerus menyertai kita
adalah Allah yang setia dan disinilah letak kebahagiaan (ayat 12).
​
Kebahagiaan tidak disebabkan oleh penderitaan tetapi kebahagiaan yang muncul karena mampu bertahan dalam
penderitaan. Kebahagiaan sebab ditengah penderitaan yang dialami kita semakin bertumbuh dalam ketekunan
(Yak.1:3). Dengan begitu maka relasi cinta memungkinkan setiap orang percaya dapat bertahan. Cinta yang suci
antara Allah dan orang percaya membuat penderitaan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan-Nya. Pencobaan
yang dialami kemudian menjadi ujian iman sehingga dapat berujung bahagia yakni bertumbuh dalam iman.
Relasi cinta dengan Allah menghadirkan pemahaman yang selalu diterangi Firman-Nya sehingga kebahagiaan
sebagai puncak relasi cinta dikarenakan kita menghindar dari pengaruh buruk akibat dari penderitaan (band.
Mazmur 1: 1-3 - tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri dijalan orang berdosa, tidak duduk dalam
kumpulan pencemooh).
Cinta kepada Allah membuat hidup ditengah penderitaan menjadi kesaksian yang luas bahwa Ia tidak pernah
mencobai karena pada diri-Nya selalu terkandung rencana damai sejahtera dan masa depan penuh harapan
(Yer. 29:11).
Pencobaan telah menghadirkan tahan uji dan berujung pada mahkota kehidupan - itulah mahkota yang didapatkan
setelah menang atas sebuah pertandingan, dirayakan di depan banyak orang. Maka setiap kali penderitaan kita
alami di saat yang sama kita bisa sekaligus memberi kesaksian bagaimana kita tahan uji karena ketekunan akan
menjadi buah yang datang dan sempurna (Yak. 1: 4 bandingkan dengan Ayat 14: setiap orang yang dicobai oleh
keinginannya sendiri dan ketika keinginan itu sudah dibuahi maka akan berujung pada maut).
Jadi pencobaan yang kita alami bisa hadir karena tindakan dari luar atau dari dalam diri sendiri. Penderitaan bisa
dialami oleh akibat kedua hal tersebut, tetapi penderitaan yang memungkinkan untuk bertumbuh semakin matang
beda dengan penderitaan yang berujung pada maut.
​
2. Bagaimana berurusan dengan pencobaan? (Ayat 14-15)
Dalam proses pertumbuhan kualitas orang percaya maka pencobaan atau ujian sangat berperan membuat
kebahagiaan atau sebaliknya maut. Maka hal utama ketika berhadapan dengan penderitaan adalah tidak
menyatakan bahwa Dialah yang menjadi sumber penderitaan. Dalam relasi cinta maka setiap persoalan tidak
merusak relasi yang ada dengan mengabaikan yang dicintai. Ketika kita berada di jalur cinta dengan Allah maka
kita semakin diarahkan untuk melihat bahwa kehidupan kita sangat bermakna.
​
Untuk itu yang perlu terus dijaga dalam merawat relasi dengan Allah ialah:
1. Memahami bahwa kehidupan kita hanya dapat tangguh dalam relasi yang terus terpelihara dengan-Nya dan selalu
mengaku bahwa kita memerlukan-Nya bukan dalam kapasitas kewajiban, kebutuhan tetapi dalam kapasitas cinta.
Itulah yang akan mengarahkan kita pada mahkota kehidupan. Dalam Mazmur 91: 3 dikemukakan bahwa Dialah
yang akan melepaskan kita dari segala jerat yang mematikan.
2. Memahami bahwa kehidupan hanya berarti dalam pandangan yang tertuju kepada-Nya. Ketika pergumulan
berkecamuk dan penderitaan menjadi beban yang berat maka arahkan pandangan kepada Tuhan sebab dengan
mengarahkan padangan kepada-Nya kita dapat menemukan kembali kekuatan untuk terus memberi kesaksian bahwa
Dialah yang menyertai kita (Maz. 16:8).
​​​
Dengan demikian maka kita tidak lagi membangun relasi yang berkewajiban, berkebutuhan, tetapi relasinya adalah relasi Cinta. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita di tengah pencobaan tidak pernah sia-sia. Amin
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH
Phone
021-765-5527

