
Jadwal Ibadah
28 Juni 2026
Minggu V Sesudah Pentakosta
~Penutupan Bulan PelKes GPIB~
09.00 WIB | Pdt. Johanes November Tahulending
(KMJ GPIB Jemaat Gideon Jakarta Pusat)
17.00 WIB | Pdt. Darius Leiwakabessy
(KMJ GPIB Jemaat Sejahtera Jakarta Selatan)
5 Juli 2026
Minggu VI Sesudah Pentakosta
~ Hari Keluarga Nasional ke 33 ~
09.00 WIB | Pdt. Alexius Letlora
(KMJ Sumber Kasih)
~ Hari Keluarga Nasional ke 33 ~
17.00 WIB | Pdt. A. J. M. Loppies - Mustamu
~ HUT ke 24 Yayasan Kesehatan GPIB ~
Minggu, 5 Juli 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 5 Juli 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, Lt. 1​
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
KELUARGA YANG BIJAKSANA
( Amsal 23 : 15 - 21 )
------------------------------------------------------------------------------------
Jemaat yang Tuhan Yesus kasihi;
Hidup yang bijaksana merupakan kebutuhan sebab hidup yang bijaksana selalu menawarkan rekonsialisi yang berujung pada kebaikan bersama. Artinya kebijaksanaan dapat menuntun seseorang dalam MELIHAT dunia APA ADANYA dan yang kedua adalah BERSIKAP SESUAI KEADAAN (Reza Wattimena). Maka kebijaksanaan bukanlah sebuah diskusi diawan-awan tetapi sebuah diskursus yang membumi. Hidup bijaksana dalam kehidupan yang menjaga keseimbangan adalah kehidupan yang senantiasa diwarnai kebajikan yang berlangsung secara terus menerus.
Pembacaan kita saat ini mengemukakan hal yang penting dalam kehidupan keluarga yakni KEBIJAKSANAAN. Keluarga yang terbentuk dalam perjalanan hidup yang dinamis memerlukan kebijaksanaan yang dapat terus menuntun kehadiran setiap anggota keluarga. Ketika keluarga dapat mewujudkan kebijaksanaan mereka maka mereka akan menjadi keluarga yang mampu melihat keluarga mereka sendiri tanpa membandingkannya dengan keluarga yang lain dan mampu bersikap sesuai dengan keadaan mereka. Dengan pemahaman demikian maka perlu kita perhatikan hal di bawah ini:
​
1. Ayat 15-18. Jagalah Hati.
Allah memperhatikan hati seperti kata Firman Tuhan di 1 Samuel 16:7, '....Tuhan melihat hati'. Artinya soal penampilan fisik dapat menggoda dan mengelabui manusia sebab manusia tidak memiliki kemampuan melihat hati sebaliknya Allah mampu melihat hati. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan bermula dari kesadaran manusia bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah. Kesadaran ini akan menuntun manusia memasuki relasi yang hidup dengan Allah. Artinya manusia mengakui bahwa seluruh tindakan kebijaksanaan diketahui Allah. Dalam kehidupan suami-istri yang dinamis diperlukan kesadaran bahwa Allah tahu hati mereka dan Ia bersukacita dengan manusia. Semuanya berawal dari HATI YANG BIJAK' dan kebijaksanaan itu menuntun manusia mengenal dirinya sendiri dan baru kemudian orang lain. Semua bertolak dari sikap anggota keluarga yang selalu menjaga HATI sebab itulah yang dikehendaki-Nya. Matius 22: 35-38, 'kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap HATIMU. Ketika hati mampu mempertimbangkan mana yang baik dan yang tidak baik itulah hati yang bijak. Sebab ketika kita mencari Tuhan dengan segenap hati kita akan dijumpai-Nya (Yer. 29:13).
​
2. Ayat 20-21 Jangan ada diantara pemalas.
Keluarga yang berkemenangan ditandai dari sikap yang SESUAI DENGAN KEADAAN yakni kemauan untuk terus bertumbuh dalam kebenaran. Sesuai dengan keadaan bukan berarti permisif tetapi ia tahu bagaimana menggunakan kemampuan yang dimiliki. Kapan ia harus diam dan kapan harus bicara. Dengan begitu setiap anggota keluarga menjadi tahu dengan siapa ia harus bergaul sebab bukankah pergaulan yang buruk akan membawa petaka. Dalam Amsal 13:20 dikemukakan 'siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang'.
​
Melalui nasihat ini nampak jelas bahwa pergaulan yang buruk di luar rumah dapat membawa bencana ketika dihadirkan dalam rumah. Rumah tidak lagi menjadi wadah kebersamaan anggota keluarga tetapi tempat persinggahan sejenak. Keluarga yang menjadi prioritas akan menolong kita untuk terus menjalani kehidupan dengan penuh harapan. Kehidupan yang demikian selalu membawa makna masa depan di masa kini. Itulah yang R. Paulus jelaskan dalam 1 Korintus 15:33) bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang baik adalah kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keadaan.
​
3. Ayat 22-23 Hikmat, Pengetahuan dan Pengertian.
Tidak semua orang beruntung merasakan kehangatan ayah dan ibu. Anak-anak di panti asuhan adalah mereka yang sulit merasakan Kehangatan kasih ayah dan ibu. Keluarga yang bijaksana adalah anak-anak yang hormat kepada orangtua dan merasakan kehangatan kasih orangtua.Keluarga yang bijaksana selalu diwarnai dengan kemauan untuk terus mencari
kebenaran (ayat 23). Dengan begitu keluarga yang bijaksana adalah keluarga yang berkemenangan sebab hidup dalam tiga pilar kehidupan yakni HIKMAT, PENGETAHUAN DAN PENGERTIAN.
​
Hari-hari ini keluarga yang berkemanangan tidak ditentukan oleh segala sesuatu yang melekat pada dirinya tetapi apa yang melekat pada HATInya. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH




