top of page
Lukas 13 : 29
"Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan,
dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah."
DSC09246.JPG

Jadwal Ibadah

25 Januari 2026
Minggu III Sesudah Epifani

09.00 WIB | Pdt. Marlies Destoni - Hina

~Pendeta Jemaat GPIB Jemaat Shalom Depok~

17.00 WIB | Pdt. Francisca H. E.

Toding Datu - Manuputty

~Pendeta Jemaat~

1 Februari 2026
Minggu IV Sesudah Epifani

09.00 WIB (Khotbah Tematik) | Pdt. Alexius Letlora

~Ketua Majelis Jemaat

GPIB Jemaat Sumber Kasih Jakarta~

17.00 WIB (HUT PelKat PT GPIB)

Pdt. Francisca H. E. Toding Datu - Manuputty

~Pendeta Jemaat~

Pukul 09.00 WIB | R. Rapat lt. 1

Pukul 09.00 WIB | R. Paulus & Timotius lt. 1

RENUNGAN DARI MEJA PENDETA

KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR

( Habakuk 3: 17 - 18 )

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Mengucap syukur tentu bukanlah perkara mudah ketika tantangan dan pergumulan mendera kehidupan. Mengucap syukur bukanlah perkara gampang ketika masalah demikian menjepit dan menindas. Demikianlah juga keadaan Habakuk mengajukan pertanyaan kepada Allah tentang 'diamnya Allah' (Hab 1: 1-4).

Konteks Habakuk dimana Kasdim hadir dengan kekuatan yang demikian luar biasa destruktif sementara internal Yehuda, Habakuk menyaksikan hukum kejahatan yang menjadi rancangan dan dilakukan untuk menghina harkat kemanusiaan (Hab 2: 15).

Relasi yang kuat antara Habakuk dengan Allah menempatkan Habakuk sebagai seorang yang nampak putus asa. Cara pandang Habakuk terhadap persoalan yang demikian berat ternyata berbeda dengan cara pandang Allah dan Habakuk ditarik untuk memahaminya. Kekuatan pergumulan yang destruktif bisa saja menyebabkan cara pandang seseorang menjadi kabur dan tidak fokus tetapi dalam relasi yang kuat dengan Tuhan maka seseorang akan memiliki cara pandang yang baru.

​

Alasan kenapa harus bersykur sesungguhnya bukan hal sederhana sebab ketika bersyukur hanya dilakukan dalam keadaan yang baik maka makna bersyukur hanya dipermukaan dan tidak terserap kehidupan. Alasan kenapa bersyukur pertama-tama harus muncul dari :

1. Hubungan dengan Allah yang dbangun secara jujur. Habakuk tidak sekedar berdialog dengan Allah tetapi sejatinya

    habakuk terbuka menyatakan pendapatnya kepada Allah. Hubungan demikian hanya muncul dari sebuah komunikasi

    yang berlangsung akrab. Habakuk tidak berbasa basi dalam hubungan dengan Tuhan, tidak menutup aktifitasnya di

    hadapan Allah dengan segala kemunafikan. Dalam Mazmur 100: 4, dikemukakan bahwa perjumpaaan dengan

    Allah senantiasa menghadirkan rasa syukur sebab Ia tahu siapa kita. Kolose 4: 2 juga dikemukakan bahwa

    mengucap syukur beriringan dengan berjaga-jaga sebab persoalan dan pergumulan bisa saja hadir tanpa diundang.

    Memiliki hubungan dengan Allah menjadi dasar dari sebuah ungkapan syukur

​

2. Mengenal Allah yang mengenal ciptaan-Nya. Alasan kedua dalam bersyukur adalah kesediaan untuk memahami

    bahwa Allah mengenal kita lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Ketika persoalan dan pergumulan mendera,

    Allah tahu apa yang harus dilakukan-Nya sekalipun hal itu tidak mudah dimengerti sebab kita selalu menghendaki

    perubahan instan. Tuhan tidak pernah mengalami kegagalan mengenal siapa kita dan sebaliknya kita diajak untuk

    berhasil dalam mengenal siapa Allah. Jadi mengucap syukur dengan alasan pengenal inilah membuat setia

    orang dapat hidup dalam kelegaan.

​

Sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Disamping itu segala keadaan yang buruk dan menekan tidak saja menjadi persoalan pribadi tetapi menjadi persoalan kolektif dalam keluarga. Setiap anggota keluarga yang mengalami pergumulan bukanlah pergumulannya sendiri tetapi menjadi pergumulan keluarga. Tentu tidak dimaksudkan bahwa kita harus menyampaikan semua persoalan kepada anak-anak tetapi yang perlu dipahami adalah pergumulan dapat berpengaruh kepada keluarga.

​

Hubungan yang baik dengan Allah akan memberi kemampuan untuk mengucap syukur secara kolektif. Mengucap syukur secara terbuka dan utuh dalam persekutuan sebagai keluarga yang diberkati Allah. Artinya mengucap syukur lalu berakibat :

1. Kita memahami bahwa keluarga punya nilai yang penting. Bisa saja orang lain tidak tahu apa pergumulan kita,

    tetapi yang pasti Tuhan tahu apa yang mendera kehidupan kita. Karena itu mengucap syukur adalah tindakan iman

    yang akan mengubah nilai keluarga kita. Anggota keluarga kita dapat saja menjadi sumber persoalan dan masalah,

    namun ketika hubungan dengan Allah demikian mengakar maka kita dapat bersyukur kepada Allah sekalipun

    dengan lirih, karena air mata kita tidak pernah diabaikan Tuhan. Setiap anggota keluarga perlu untuk saling

    menopang, sebab doa seorang anak bagi ayah-ibunya yang mengalami pergumulan bukanlah hal sederhana. Maka

    kita perlu selalu menjaga mutu ungkapan syukur sebab di dalamnya terkandung mutu relasi anggota keluarga.

​

2. Kita memahami bahwa mengucap syukur semakin mengasah kualitas iman. Akibat dari mengucap syukur adalah

    kualitas iman kita semakin bertumbuh. Mengucap syukur lalu bukanlah ungkapan basa-basi sebab Allah tahu apa

    yang menjadi ucapan syukur kita. Ia mengenal kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi takjub ketika Ia

    menggiring dan mendampingi kita mengatasi setiap persoalan. Mereka yang mengucap syukur adalah mereka yang

    paham bahwa Allah tdak pernah gagal dalam setiap rencana-Nya.

​

3. Kita semakin waspada dalam menjalani kehidupan. Akibat dari mengucap syukur menyebabkan kita tidak hidup

    sesuka hati sebab kita tidak mungkin menyenangkan semua pihak dan tidak semua orang membenci kita. Kita

    waspada untuk selalu menjaga hati tidak memendam kebencian sambil mensyukuri bahwa ada pihak lain dalam

    diam mengasihi dan menopang kita dalam doa.

​

Sahabat yang terkasih;
Dengan pemahaman inilah kita membaca ayat 17-18. Dalam hubungan yang dekat dengan Allah maka hasil pertanian yang demikian penting tidak lagi menjadi yang terpenting. Sebab yang terpenting kini bergeser kepada Allah. Kita bisa saja berhasil dengan semua berada dalam genggaman kita namun dalam kedekatan dengan Tuhan maka semua itu penting namun Allah yang terpenting. Mengucap syukur lalu hadir sebagai kekuatan iman yang dewasa dan bukan kekanak-kanakan. Iman yang matang karena dibentuk oleh kesadaran yang utama bahwa hidup kita tidak bisa dilepaskan dari Allah.

​

Ayat 18, bersorak-sorak (Ibr. alaz) bukanlah sekedar beria-ria dengan senyuman, tetapi Habakuk mau menyatakan bahwa dia berlompat-lompat. Sebuah ekspresi yang otomatis muncul tanpa dibuat-buat, bersorak-sorak dalam tindakan yang menggembirakan merupakan jawaban atas semua pergumulan dan persoalan yang dialami. Hal ini terjadi karena Habakuk paham bahwa:

​

a. Allah tidak gagal dengan rencanaNya
b. Relasi yang dekat dengan Tuhan
c. Keluarga yang semakin belajar firman Tuhan
d. Pribadi yang terus bertumbuh dalam Iman.

​

Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Laus Deo. Amin.

​

(www.aletlora.com)

KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH

Ibadah Tematis Feb 2026.png

Address

Jl. Lebak Bulus III No. 50, 

Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 12440

Phone

021-765-5527

Email

Connect

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram

© 2023 GPIB Sumber Kasih DKI Jakarta

bottom of page