top of page
Lukas 13 : 29
"Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan,
dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah."
DSC09246.JPG

Jadwal Ibadah

12 April 2026
Minggu II Sesudah Paskah

09.00 WIB |  Pdt. A.J. M Loppies-Mustamu

17.00 WIB |  Vik. Almeidika Anindia

19 April 2026
Minggu III Sesudah Paskah

09.00 WIB |  Pdt. Nitis Putrasana Harsono, M.Th.
(Ketua Umum MS XXII GPIB)

17.00 WIB |  Mupel Jakarta Selatan

Minggu, 19 April 2026

Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1

Minggu, 19 April 2026

Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1

RENUNGAN DARI MEJA PENDETA

MENJADI BERMAKNA LEBIH PENTING

DARI POPULARITAS

( Yoh. 12 : 20 - 36 )

------------------------------------------------------------------------------------

Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus;
Salib adalah media untuk menjangkau manusia agar memeroleh keselamatan. Maka salib tidak sekedar alat penyiksaan yang menghadirkan suasana teror terhadap setiap yang melihat tetapi sekaligus menjadi alat intimidasi psikologis dari penguasa. Salib lalu menghadirkan kengerian ketika diposisikan demikian ganas dan garang dalam bahasa diam namun mematikan. Salib adalah symbol kekuasaan dan sekaligus menunjukkan bahwa bisa hadir sebagai alat untuk menurunkan derajat kemanusiaan seseorang. Pada titik inilah Yesus hadir dengan segala kemuan yang kuat untuk menyatakan kuasa Allah yang penuh kasih.

​

Sahabat-sahabat terkasih,
Melalui bacaan ini kita dihantar memasuki sebuah kenyataan yang luar biasa dalam perspektif iman bahwa jangkauan kasih-Nya melampaui semua atribut yang dimiliki manusia. Ia menghadirkan damai sejahtera yang kemudian menjadi milik semua orang yang diwakili oleh beberapa orang Yunani (ayat 20). Maka keinginan beberapa orang Yunani yang memiliki cara berpikir Yudaisme turut mengalami pembaruan dan pembersihan. Yesus mengedepankan pola hidup baru yang kemudian tampil dalam pesona yang menghantar manusia tiba pada Terang dan mempercayai Terang itu (ayat 36). Dengan demikian maka seluruh karya keselamatan di dalam Tuhan Yesus memberi perspektif baru yang memerlukan keterbukaan bahkan keberanian memasuki 'uncomfort zone' sebagaimana dinyatakan di bawah ini :

​

1. Ayat 20-26, dikemukakan bahwa kehadiran Yesus dengan gagasan baru yang mencengangkan banyak pihak waktu itu. Ia Menghadirkan pengosongan diri yang berujung pada kepenuhan yang dialami oleh mereka yang percaya kepada-Nya. Jadi pengosongan diri Yesus menjadi teladan setiap orang yang mau mengikuti- Nya untuk bisa hadir dalam pemahaman hidup yang baru. Hidup yang tidak lagi berujung kematian melainkan hidup yang berujung pada hasil/buah. Inilah makna hidup yang membungkam perilaku yang berorientasi pada ke-aku-an menjadi ke-bersama-an. Inilah pelayan pengosongan diri yang memberi ruang bagi kehidupan dan menyandarkan kehidupan kepada yang mempunyai hidup (ayat 26). Lewat pemikiran demikian maka hendak dikemukakan bahwa kepercayaan kepada Yesus bukanlah sebuah tindakan final tetapi dibuktikan melalui buah-buah kehidupan.

​

Umat yang percaya kepada Yesus adalah umat yang memberi apresiasi kepada pengsongan diri (baik diri sendiri maupun orang lain). Disinilah tampil kehidupan yang bermakna dan tidak mengejar popularitas sebab popularitas tidak pernah bersentuhan dengan ke-bersama-an tetapi mengarah hanya pada ke-aku-an. Inilah hidup yang kemudian menghidupkan banyak pihak sehingga pengharapan menjadi kuat dan terus menghasilkan pertumbuhan. Menjadi biji gandum (ayat 24) merupakan penyangkalan terhadap identitas diri yang superior sebagimana diperlihatkan orang Yahudi.

​

2. Ayat 27-36 menunjukkan bahwa keterharuan Yesus atas kehidupan yang kacau balau menyebabkan tindakan penyelamatan berujung pada kehidupan yang tertib dan teratur. Ketertiban dan keteraturan itu nampak juga dalam hal mendengar agar supaya mereka yang mendengar Injil menjadi orang yang mengakui Injil. Ketika mendengar saja sudah mengalami distorsi (ayat 29) maka jarak dengan sang keselamatan menjadi 'jauh'. Suara yang didengar adalah suara Bapa sendiri sehingga distorsi pendengaran akan berujung pada distorsi makna.

Mendengar, apakah yang didengar? Tidak lain adalah informasi tentang bagaimana Ia harus mati tergantung pada tiang salib. Mendengar salib dengan semua konsekuensinya bukan hal mudah ketika telinga terarah hanya kepada suara dunia (ayat 24). Pendengaran rohani yang baik akan menghantar mereka berada dalam lingkaran keselamatan yang menukik pada kata mesias. Disnilah diperlukan kerendahan hati agar bisa mendengar suara Tuhan dan kerygma (ajaran) secara tepat. Pada titik inilah setiap orang dimungkinkan berada dan masuk dalam jangkauan yang menghidupkan dari Allah.

​

Inilah Terang yang hadir dan menggembirakan setiap relung kehidupan sebab memberi arah hidup yang penuh kemenangan sekalipun berjumpa dengan maut. Maka saudara sekalian milikilah dan asahlah senantiasa pendengaran rohani kita agar suara kebenaran menukik dalam kehidupan kita dan menghantar kita untuk tiba pada kenyataan bahwa Ia adalah Mesias yang hidup.

Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya ke-bersama- an serta pendegaran rohani kita semua tidak akan pernah sia-sia sebab mengalami pertumbuhan dan berbuah. Amin.​

​

(www.aletlora.com)

KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH

IBADAH GP.jpeg
DSC09191.JPG

Address

Jl. Lebak Bulus III No. 50, 
Lebak Bulus, Jakarta Selatan, 12440

Phone

021-765-5527

Email

Connect

  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram

© 2022 - 2026 GPIB Jemaat Sumber Kasih DKI Jakarta. ALL RIGHT RESERVED.

bottom of page