
Jadwal Ibadah
5 April 2026
Minggu Paskah
04.00 WIB | Pdt. Alexius Letlora
~KMJ GPIB Jemaat Sumber Kasih~
17.00 WIB | Pdt. Murwanto Moesamo
~PJ GPIB Jemaat Sumber Kasih~
12 April 2026
Minggu II Sesudah Paskah
09.00 WIB | Pdt. A.J. M Loppies-Mustamu
17.00 WIB | Pdt. Alexius Letlora
~KMJ GPIB Jemaat Sumber Kasih~
Minggu, 12 April 2026
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat & R. PelKat PA, lt. 1
Minggu, 12 April 2026
Pukul 09.00 WIB | R. PelKat PT, lt. 1
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
PERCAYA PADA YESUS YANG TERSALIB
(Matius 27 : 32 - 44)
------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Percaya pada Yesus yang tersalib bukan soal sederhana sebab bukankah salib adalah lambang penderitaan? Bukankah salib adalah lambang terkulainya kebenaran dalam cengkeraman kuasa yang menistakan? Maka seringkali percaya pada Yesus mendadak redup dan lemas ketika salib menjadi kenyataan yang tidak mudah. Sebagai lambang cengkeram dan mematikan dari kekuasaan maka salib menghadirkan pemisahan antara yang dikuasai dan berkuasa. Percaya pada Yesus yang tersalib memang bukan hal sederhana sebab ketika tubuh yang berdarah dan tertatih harus melangkah dalam kelelahan maka seluruh argumentasi tentang kasih dan penyertaan Allah menjadi pertanyaan mendasar, inikah sang juruselamat?
​​​
Jika dewasa ini soal kekuasaan menjadi penting dan dewa bagi banyak orang maka percaya kepada Yesus yang tersalib adalah batu sandungan dan kebodohan (1Kor. 1: 23). Percaya kepada-Nya tidaklah suatu peristiwa yang mentransformasi kehidupan, sebaliknya menjadi peristiwa yang tidak berarti. Yesus yang tersalib adalah Yesus yang dapat dengan segera diabaikan ketika ruang hati terbuka untuk segala bentuk kejahatan. Masih adakah cinta yang didasarkan pada Yesus yang tersalib?
Hari ini di Jumat Agung 2021 kita mendapat pengajaran penting namun sekaligus genting. Penting sebab terlibatnya Simon orang Kirene menunjukkan bahwa tidak seorang murid pun ada di dekat-Nya. Terlibatnya Simon orang Kirene secara eksplisit menunjukkan bahwa Ia sendiri di tengah riuhnya penghinaan dan derasnya penodaan (Mat. 27: 39-40). Namun kenyataan ini berbeda tajam dengan hadirnya Simon orang Kirene sebab hanya dalam waktu singkat namun Simon mengalami transformasi dalam keluarga sehingga Paulus menyapa istri dan anaknya di Roma 16: 13 (Baca juga Markus 15: 21). Maka pengajaran penting adalah apakah percaya pada Yesus tersalib membawa perubahan dalam hidup berkeluarga? Sebab Jumat Agung bukan sekedar hari penyaliban tetapi sekaligus hari perubahan. Apa artinya Jumat Agung tanpa adanya perubahan dalam relasi di keluarga? Inilah pentingnya percaya kepada Yesus yang tersalib dan juga betapa gentingnya hal ini.
​
Jika dewasa ini sifat yang inklusif (memeluk) diperhadapkan pada sifat diabolis (memisahkan) maka pertanyaan mendasar adalah apakah Jumat Agung menjadi peristiwa penting untuk memeluk dan dipeluk-Nya? Hidup dalam relasi yang memeluk adalah narasi yang anti pada tindakan diabolis. Percaya pada Yesus yang tersalib adalah peristiwa yang memberi pengertian baru bahwa dalam penderitaan yang paling hebat sekalipun selalu ada pribadi yang Tuhan tentukan untuk mendampingi. Cara hidup yang memeluk dan bukan memisahkan adalah cara hidup yang diajarkan melalui kisah penyaliban.
​
Kisah penyaliban menjadi peristiwa Allah yang memeluk manusia dan melalui semua penerimaan terhadap kelemahan manusia. Peristiwa penyaliban menjadi bukti tentang cinta kasih yang tidak terbatas hanya pada narasi tetapi aksi yang dimulai dari keluarga. Maka ketika mujisat pertama terjadi di Kana, diakhir karya pelayanan Yesus sebuah mujisat juga terjadi di Kirene. Maka percaya pada Yesus yang tersalib adalah berdiri dalam kepastian tentang kuatnya Ia memeluk kehidupan kita dan kuatnya Ia berhadapan dengan kuasa yang hendak memisahkan (diabolis) kita dari-Nya.
​
Perjamuan kudus ini adalah simbol dari tekad untuk selalu hadir dalam semangat yang inklusif bukan semangat diabolis. Perjamuan kudus menunjukkan bahwa spiritualitas kita tidak ditentukan oleh siapapun tetapi dalam keputusan kita untuk menerima salib dan memikulnya sampai ujung usia kita. Maka dibalik kisah Jumat Agung yang menyedihkan tetap terlihat semangat yang kuat bahwa kesedihan itu dibungkus oleh kasih-Nya yang memungkinkan hidup menjadi hidup yang memeluk dan bukan hadir dengan semangat diabolis yang kemudian menjadi diabolos (setan) yang gemar memisahkan.
​
Kini hadirlah dalam kegembiraan untuk percaya kepada Yesus yang tersalib sebab hanya dengan demikian perjamuan kudus ini menjadi bermakna. Hadirlah dengan semangat yang merendah di hadapan-Nya agar seluruh kehidupan kita menukik pada pengakuan bahwa Simon orang Kirene bukan orang penting, kitapun bukan yang utama, sebab yang utama dan terutama adalah Dia yang tersalib untuk kita. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH
PESAN PASKAH 2026 MAJELIS SINODE GPIB




