
XXIII Sesudah Pentakosta
Minggu, 16 November 2025
09.00 WIB | ​Pdt. Ruth Harjowinoto-Ngantung
(PJ GPIB Jemaat Kharisma Jakarta Selatan)
17.00 WIB | Vik. Almeidika Anindia
Minggu, 22 November 2025
09.00 WIB | ​Pdt. Gomar Gultom
17.00 WIB | Pdt. Em. Jeffry W. Ch. Sompotan
(Corak Muda)
Pukul 09.00 WIB | R. Rapat lt. 1
Pukul 09.00 WIB | R. Paulus & Timotius lt. 1
RENUNGAN DARI MEJA PENDETA
BERSEKUTU DAN BERSYUKUR
(Kolose 1:3-7)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Pusat iman Kristen adalah Yesus Kristus yang telah memberi keadaan baru berdasarkan kasih karunia-Nya. Sebagai puncak doktrin yang harus terus dihidupkan dalam lingkungan jemaat Kolose maka Paulus berharap bahwa surat Kolose bisa menjadi surat yang juga dibaca oleh banyak pihak. Di surat Kolose rasul Paulus mengetengahkan pondasi imannya yang membuat Paulus secara terbuka menunjuk kepada Yesus Kristus yang memepercayakan pemberitaan Injil kepadanya (ayat 1).
​
Pengajaran ini penting sebab sekalipun tidak terlibat dalam pembangunan jemaat di Kolose tetapi Paulus mengasihi jemaat yang didirikan oleh anak rohaninya yakni Epafras yang menyampaikan berita tentang Kolose kepadanya. Epafras mengemukakan berita secara seimbang tentang bagaimana cara hidup jemaat sehingga dipuji oleh Paulus (ayat 4). Di sisi lain juga dikemukakan tentang guru-guru palsu yang telah merasuk dalam persekutuan umat yang akan berujung pada tumpulnya tugas missional. Jadi kepada Paulus dikemukakan keadaan yang baik dan sekaligus keadaan yang menantang. Kisah Kolose ini sekaligus menunjukkan bagaimana jemaat harus berhadapan dengan berbagai keadaan.
​
Rasul Paulus menunjukkan kedewasaan iman yang berpusat kepada Yesus Kristus ( ayat 18) sehingga segala sesuatu harus ditempatkan dalam perspektif tindakan-Nya yang melepaskan dari kuasa kegelapan (ayat 13). Rasul Paulus memperlihatkan bahwa pengalaman di Damsyik turut memberi andil pada sikap militan yang dimilikinya.
​​
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Pengajaran yang diberikan kepada jemaat di Kolose ialah bahwa kehidupan yang didasarkan kasih karunia adalah kehidupan yang bermakna. Kasih karunia yang memungkinkan umat dapat bergerak leluasa untuk menyatakan kebajikan kepada sesama sebagai semangat mewujudkan kesaksian. Beragam nasihat yang diberikan oleh Paulus menunjukkan bahwa Paulus mengasihi jemaat di Kolose sekalipun Epafras yang membangunnya. Baik Paulus, Timotius maupun Epafras telah menghadirkan contoh trio pelayanan yang berhadapan dengan tantangan. Relasi ketiganya menunjukkan bahwa setiap tantangan dalam pelayanan haruslah dijawab dalam persekutuan. Persekutuan yang saling menopang dan melindungi sebab persekutuan tersebut tidak dibatasi dengan perbedaan suku bangsa (Kol. 3: 11). Maka jemaat tidak saja mengalami pertumbuhan dalam iman mereka kepada Yesus tetapi hal itu menghasilkan buah yakni jemaat yang memberi kesaksian bahwa hidup mereka berpusat kepada Yesus.
​
Pengajaran penting yang hendak dikemukakan adalah:
​
1. Pengharapan yang berpusat pada Yesus Kristus (ayat 3)
Pengajaran yang dikemukakan Paulus adalah keberadaan jemaat sebagaimana keberadaan Paulus berpusat kepada Yesus. Hal ini penting untuk dimengerti karena dalam persekutuan sebagai satu tubuh dengan Kristus dengan beragam latar belakang. Sekalipun tantangan hadir dengan semangat untuk mengoyak persekutuan tetapi umat selalu bersyukur sebab damai sejahtera memerintah dalam hati (3:15).
​
Paulus berdoa agar seluruh keberadaan jemaat di Kolose diwarnai dengan keyakinan bahwa pengharapan mereka kelak (ayat 5) telah menggerakkan kehidupan yang memberi kesaksian. Pengharapan mereka telah menjadi semangat yang terus berjuang menyatakan diri sebagai umat-Nya yang bersaksi. Hal ini memberi pengajaran kepada kita semua bahwa kehadiran sebagai keluarga Kristen memang selalu diperhadapkan dengan tarikan yang hendak mendegradasikan nilai keluarga. Mengasihi telah turun kualitasnya sehingga yang terjadi adalah relasi suami-istri yang transaksional. Keluarga Kristen adalah keluarga yang memberi kesaksian bahwa seluruh gaya hidup mereka didasarkan pada pengharapan yang kokoh dan pengharapan itu tidak mengecewakan (Kolose 1:27, Roma 5:5). Maka sekalipun perjalanan hidup sebagai orang percaya tidak mudah namun kita tidak pernah kehilangan pengharapan. Setiap pribadi yang berpusat pada Kristus adalah pribadi yang selalu berpengharapan bahwa bahwa hidup ini sungguh berarti (1 Timotius 4:10). Dalam keadaan demikian maka HUT adalah peristiwa yang mengingatkan bahwa pusat hidup adalah Yesus yang memungkinkan pengharapan tetap terjaga.
​
2. Hikmat Injil dan Ucapan Syukur (ayat 6-7))
Hadirnya jemaat di Kolose merupakan wujud dari karya Yesus yang mengampuni dosa sehingga persekutuan itu adalah persekutuan orang-orang yang mengalami pengampunan. Kesadaran ini demikian penting sebab sadar bahwa karya Kristus demikian penting merupakan jalan masuk untuk terus menyatakan kualitas sebagai persekutuan. Kesadaran individual inilah yang akan menggerakkan semua potensi umat dalam langgam bahasa ibadah yang sama.
​
Kesadaran individual ini kemudian hadir dalam persekutuan yang kokoh untuk menghadapi berbagai peristiwa. Maka dalam konteks ini hendak dikemukakan bahwa memiliki hikmat adalah kebutuhan yang mendasar bagi persekutuan. Hikmat tentang kesadaran diri di hadapan Allah akan memungkinkan terjadinya persekutuan yang bersyukur (ayat 12).
Hal ini menunjukkan bahwa dibutuhkan kemampuan yang tajam dalam melihat berbagai peristiwa sehingga hadir sebagai pribadi yang responsive terhadap karya Allah. Tanpa rasa syukur maka kehadiran selaku orang percaya masa kini tidaklah mengakar sebab kekuatan dari mengucap syukur adalah pengenalan Allah yang kuat dan perkasa dalam karya keselamatan (ayat 14). Dengan mengucap syukur kita dimungkinkan melihat peristiwa dengan sudut pandang yang berbeda ketika menghadapi kesulitan dalam hidup. Maka hadirlah sebagai pribadi yang selalu mengucap syukur, karena keterlibatan Allah dalam segala sesuatu.
Mengucap Syukur di HUT sekaligus mengingatkan bahwa hari-hari kedepan adalah hari-hari yang memberi kesaksian betapa Tuhan sungguh baik.
​
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi;
Maka kehadiran kita selaku orang percaya dewasa ini memiliki kesempatan yang luas untuk memberi kesaksian bahwa diperlukan persekutuan yang solid untuk menghadapi tantangan. Diperlukan kesadaran diri bahwa membutuhkan Tuhan yang akan menyertai. Dan muaranya adalah ungkapan syukur.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.
​
KEGIATAN JEMAAT SUMBER KASIH
PERPUSTAKAAN GPIB JEMAAT SUMBER KASIH

Phone
021-765-5527


